Kamis, 12 September 2013

Pentingnya Komunikasi



PENTINGNYA KOMUNIKASI

Tak dapat dipungkiri apatisme masyarakat terhadap perkembangan pembangunan  pada akhir akhir ini terasa semakin mengental, hal ini lebih disebabkan terhambatnya arus komunikasi dua arah oleh karena berbagai sebab.

Sejak dibekukannya Departemen Penerangan, maka penyampaian program program pembangunan yang direncanakan oleh Pemerintah nyaris tak terdengar, hanya pada kalangan tertentu saja program tersebut dengan jelas dapat didengar dan dimengerti. Disisi yang lain, masyarakat khususnya kelas bawah, terlalu sibuk dengan upaya upaya untuk dapat meningkatkan kesejahteraan keluarganya. Kesibukan dalam mencari penghasilan itulah yang memunculkan sikap apatisme semakin mengental.

Sikap sikap apatisme tersebut, nyata sekali dalam kehidupan bermasyarakat saat ini. Seperti hal nya saat ini kegiatan siskamling sudah semakin jarang dan hampir tak pernah ada siskamling lagi. Kegiatan kebersihan lingkungan yang sering disebut kerja bhakti, malah tak pernah dilakukan, kecuali jika akan ada pejabat yang berkunjung atau melewati daerah tersebut. Artinya bahwa melaksanakan kegiatan kebersihan lingkungan bukan karena kesadaran tentang arti bersih itu sehat, tetapi lebih kepada seremonial saja.

Tetapi apakah keadaan yang seperti ini akan tetap dibiarkan saja ? tentu sebagai anggota masyarakat yang tergabung dalam Kelompok Informasi Masyarakat  ( KIM ) Nawala Kecamatan Tempeh Kabupaten Lumajang, akan turut serta berperan dalam menyadarkan kepada masyarakat luas tentang arti pentingnya sebuah Informasi dan Komunikasi  aktif.

Tak ada persoalan yang tak bisa diselesaikan, jika informasi persoalan tersebut disampaikan dengan komunikasi yang baik, luwes dan saling menghargai.
 Apatisme Masyarakat
Peristiwa politik yang terjadi di beberapa daerah dengan agenda pilkada akhir-akhir ini terasa menjadi semakin panas dingin, Sebagian kalangan berpendapat bahwa tahun 2013 merupakan Tahun politik. Pasca Pemilihan Bupati Kab. Lumajang, Pilkada dilanjutkan kemudian dengan  Pemilihan Gubernur Jawa Timur, dan setelah itu masih diteruskan dengan Pemilihan Pejabat di Tingkat terendah yakni Pemilihan Kepala Desa. Peristiwa politik yang susul menyusul itu berimbas pada sendi sendi kehidupan masyarakat khususnya di pedesaan, contoh soal yang muncul akhir akhir ini adalah : adanya gangguan keamanan dalam bentuk pencurian, perampasan bahkan perampokan. Belum lagi persoalan persoalan lain yang terus membayangi kehidupan masyarakat, seolah olah tak berujung.
Kejadian kejadian ini terjadi karena para pejabat di Pedesaan lebih terfokus pada acara perhelatan Pemilihan Kepala Desa, Banyak para PJS Kades yang saat ini sedang menjabat  kemudian maju lagi dalam Pilkades. Sehingga waktunya habis tersita untuk menggalang konstituennya, dan melupakan tanggung jawabnya untuk tetap melaksanakan tata kelola pemerintahan desa. Hal ini jelas nampak dari tidak adanya komunikasi aktif dengan masyarakat, sehingga masyarakat menjadi pasif dan tidak peduli terhadap situasi dan kondisi di sekitarnya.
Sehingga masyarakat sah-sah saja jika kemudian berpandangan bahwa hampir semua Pejabat di Desa hanya mementingkan kepentingan dirinya sendiri, faktanya adalah komunikasi dibangun manakala ada kepentingan yang berkaitan dengan dukung mendukung, jika tidak ada kepentingan maka tak ada komunikasi yang terbangun. Oleh karena itu, seyogyanya para pejabat di Desa segera menyadari tentang arti penting nya komunikasi, sebab dengan komunikasi intensif dapat dijadikan sebuah sarana untuk menyamakan persepsi, sehingga terwujud sebuah kebersamaan untuk menyongsong hari esok yang jauh lebih baik lagi.
Membangun komunikasi yang selaras, harmonis, dan bermartabat adalah merupakan solusi dalam mengikis krisis kepercayaan, Apatisme akan semakin mengental jika komunikasi aktif yang saling menghargai tak pernah dilakukan.
( Dok. KIM Nawala  Kec. Tempeh )

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar